{ 2008 in Memorial }

//December 31, 2008//

Never thought living the 20th year of my life would be this frickin good.

The biggest highlight, Pimpro Wisuda Juli 2008. I’m longed for this, craved a lot to this, and in the end, I freaking got that. Haha, seriously, never dare to compete with people who would die to get anything he wants, if you didn’t have at least the same or higher needs. And hell, I was dying to get it. I was on top of the world and the best soundtrack for me is Don’t Stop Me Now – Queen. Senang akhirnya mendapatkan apa yang sudah saya sumpahkan selama 2 tahun, I guess waiting is never meant to kill you anyway, it comes to teach you what its worth to wait something you really badly want. Wisuda Juli 2007 kemarin, saya jadi staf sortir Koyim, eh taunya Wisuda Juli 2008, Koyim yang gantian jadi staf saya. Lucu kalo inget-ingetnya. Waktu itu, banyak banget masalah yang ada, kayak dipukulin di muka terus-terusan nggak pake nafas. Yaa, KMPAlah, yaa Foto Bersamalah, tapi semuanya tetap menyenangkan. Dan keinginan saya untuk menjadikan wisuda bersenang-senang, sedikit banyak ada yang terwujud. In the end, I don’t know how low I can go, because it’s too damn fun.

Terus apa ya? Oh iya, saya ngulang 2 pelajaran pada 2 semester berturut-turut dengan dosen yang sama. Benjamin Soenarko, akan kuingat terus namamu. Maksudnya, di semester 3 ngulang Probabilitas dan Statistika dan di semester 4 ngulang Matematika Fisika. Benar-benar shock berkepanjangan saat itu. Tapi ya sudahlah, anything happens for better.

Saya setahunan sama si pacar Juli kemaren. Tapi lupa waktu itu ngapain, ya?

Terus, ibu saya ngasih handphone baru pas saya ulang tahun. Senangnya. Jadi ceritanya, saya nggak pernah dibeliin handphone sama si ibu. Terus handphone saya yang lagendaris itu (Nokia 5510i yang keren itu, karena punya 3 garis keren melintang di layarnya) didapet waktu menang lomba bikin film di handphone pas kelas 2 SMA. Jadilah ibu saya kasihan dan membelikan saya handphone baru. Senangnya...

Tahun ini mencoba banyak hal baru yang kayaknya di tahun lalu, saya pernah berpikir itu cuma khayalan. Ya pimpro wisudalah, ya jadi staf pendidikanlah. Jadi staf pendidikan itu sebuah pengalaman tak tergantikan. Saya mati-matian menghafal muka si cakru-cakru walaupun pada akhirnya, kayaknya banyak Cakru yang lebih kenal si Dinoy atau Geri dibanding saya. Dan sedihnya, ada yang bilang Pendidikannya keren, tapi di Wall Facebooknya Geri. Emangnya saya nggak dianggep,ya? Tapi tetap senang kok, setidaknya ada yang bilang gitu. Haha...

Karena banyaknya kesibukan sana sini, tugas dan laporan LabTF yang annoying akhirnya, saya sama teman-teman jarang main bareng lagi. Padahal biasanya malam minggu kita selalu diisi sama hahahihi bareng di rumah Mega sambil makan semua yang mengandung kolesterol, baca majalah-majalah gaul masa kini, dan nonton DVD film-filmnya Paris Hilton ato BBB yang bisa dihina-hina. Tapi semua itu menguap sudah. Miss those precious moment.

Yaah, begitulah kira-kira setahun bersama saya. Semoga tahun depan, lebih memberi berkah bagi saya sekeluarga dan semua orang yang mengenal saya. Semoga tahun depan, ambisi 1 tahun, 1 film akan terwujud lagi. Amin...

|



{ Review }

//December 30, 2008//

Tahun kemarin, saya menetapkan beberapa target untuk dicapai. Dan di tengah tahun, saya mulai mengurangi yang tampaknya tidak mungkin dan mereduksinya jadi beberapa. Sehingga akhirnya, di akhir tahun yang indah ini, saya bisa sedikitnya mengoreksi diri untuk (mungkin) jadi orang yang lebih baik di tahun depan (I really can wish, can’t I?).

- Bikin film, setidaknya satu. (Done!)
Judulnya Negatif, sutradaranya Vina, PH-nya Trovata Production. Saya cuma bantuin bikin skenarionya dan gantiin jadi Manpro di salah satu hari syuting. Haha, tapi namanya tetap bikin film nggak ya? Agak nggak puas dengan diri saya sendiri sih, ini nih namanya filmmaker. Haha, lihat saja di tahun ini.

- Bikin cerita, setidaknya satu. (30 % lah ya...)
Selesai sih nggak, tapi di tahun ini rupanya saya mendapat banyak ilham untuk berkarya. Banyak tulisan-tulisan pendek saya, yang kalo pengen niat dilanjutin, I bet gonna look smashing.

- Bikin script, setidaknya tiga. (DONE!)
Hey, I’m a stoppable engine! Saya nulis script buat Negative, terus Dan Cinta Kita.. – filmnya Hafidh, saya nyelesain script yang sudah lama terbengkalai, judulnya The Warrior of The Sky – Para Ksatria Langit, dan Diffraction – Difraksi. Terus baru-baru ini menyelesaikan treatment buat 2 script lagi, judulnya The Yellow Transport, dan Red Umbrella.

- Bikin review film, setidaknya tiga. (DONE!)
Untuk pertama kalinya di tahun ini, saya menulis review. Waktu itu nulis Iron Man. Setelah itu berjanji menulis lagi dan akhirnya bikin Wall-E dan High School Musical. Yah, walaupun tulisannya biasa-biasa aja sih.

- Punya 5 reader's diggest dan 3 National Geographic. (2/8 berarti 25 %)
Pada akhirnya, di tahun ini saya tidak menambah koleksi Reader’s Diggest saya. Tapi setidaknya saya punya 2 National Geographic yang manis di rak saya.

- Menyelesaikan buletin Kulker tepat waktu setidaknya 9 kali tahun ini. (4/9 berarti 44,4 %)
Saya menyelesaikan 4 buletin tepat waktu, dan sayangnya buletinnya nggak terbit-terbit lagi selanjutnya. Tapi alhamdullillah, kita seangkatan jadi kulker lho. Walaupun nggak ke Jepang, tapi lumayanlah. Tur Batam-Singapura.

- Punya agenda warna merah atau kuning. Check.
Saya nggak punya agenda warna merah atau kuning, tapi saya dibikin agenda super duper sangat keren dari si pacar. Haha, sangat senang dan bahagia karena saya nggak usah beli buku tulis ato kertas folder baru semester kemarin dan nggak usah beli agenda buat setahun ke depan.

- Dapet 4 A buat pelajaran apapun. AMAZINGLY DONE!
Saya dapet A buat Termodinamika di semester 3, dan di semester 4 dapet A di LabTF 1. Pas Semester Pendek, dapet A lagi Matematika Fisika (walaupun ngulang) dan Fenomena Gelombang (yang ini nggak ngulang). Terus akhirnya, dua pelajaran itu mengantar saya dapet IP 4,00 pas Semester Pendek. Haha, miris kan?

- Dapet IP yang lebih tinggi, setidaknya nambah 0.5 lagi. (20 % lah ya)
Ternyata yah, emang susah menaikkan IP yang sudah jeblok. Tapi berkat pelajaran yang ngulang-ngulang itu, kayaknya saya bisa dapet IP yang lebih bagus deh. Semoga hal yang sama akan terulang di Probstat (pengen banget dapet A semester ini).

- Punya blog dan nggak malas mengisinya. (50 %) Pertama saya punya, dan kedua saya malas mengisinya. Jadi mari menyimpulkan bahwa poin ini tercapai setengahnya.

Yeah... Selesai. Next stop. Kaleidoskop 2008 (macemnya tayangan gosip akhir tahun) dan target-target di 2009. Haha, terpengaruh beratnya kehidupan urban.

|



{ Rectoverso }

//December 29, 2008//

Kemarin, saya menyelesaikan bukunya Dewi Lestari, Rectoverso. Haha, telat banget ya? Tapi ya sudahlah. Saya pembaca setianya buku-buku Dewi Lestari (and dying for the next Supernova), dan sebenernya udah lama banget pengen baca buku ini. Karena lebih pengen menikmati bukunya, maka saya menolak untuk denger lagu-lagunya terlebih dahulu yang notabene emang lebih gampang didapet (Rileks memang membuat hidup lebih hidup). Ya sudah, akhirnya pas pulang ke Jakarta, saya baca deh bukunya.

Komentar saya: Cinta. Haha, bahan bakunya cinta, bumbu penyedapnya cinta, piringnya rangkaian kata luar biasa tentang cinta. Benar-benar, cinta-cintaan semua. Pendapat saya pribadi, saya nggak terlalu menggemarinya (bukan gk suka ya, tapi gk terlalu suka. Halah, sama aja). Iya, menurut saya, terlalu menya-menye. Mungkin karena tema yang diusung terlalu menggambarkan cinta secara melankolis kali ya? Tapi itu, piringnya saya suka banget, kayaknya Mbak Dewi ini mampu mengungkapkan segala perasaan lewat tulisan. Gampang banget ikut terlarut di masing-masing cerita. Jadi, saya kan model pembaca cepat, abis satu cerita langsung ke cerita selanjutnya gk ada jeda, tapi saya langsung bisa memposisikan diri sebagai si tokohnya di masing-masing cerita. Yah, pokoknya top lah Mbak Dewi ini.

Favorit saya, yang judulnya ’Malaikat Juga Tahu’ sama ’Curhat Buat Sahabat’. Tapi yang sepertinya saya banget, yang judulnya ‘Peluk’. Kayaknya suatu hari akan mengalami hal yang sama. Haha…

Walaupun pada konklusinya, tetap saya nggak terlalu menggemari Rectoverso ini (belum denger lagu-lagunya, sih), tapi yang saya garisbawahi adalah setiap baca bukunya Mbak Dewi ini, selalu terlontar hasrat untuk menulis, bikin film, atau apalah. Pengen aja, kayaknya berkreasi mencipta yang serupa indah kayak gitu. Jadi intinya, membaca Rectoverso adalah suatu pengalaman yang cukup menyenangkan.

|



{ bored }

//December 27, 2008//

Besides all the glitters the world offer, the true happiness only exists in one, shopping.

|



{ Di Mana Letak Polaris }

//December 24, 2008//

“Di mana letak Polaris?” Gail kecil bertanya.

“Utara. 20000 km ke utara. Jangan berbelok, ataupun memutar balik.”

“Walaupun ada jalan yang mustahil?” Gail bertanya lagi.

“Ya, mungkin kau akan menemuinya. Ada jurang yang dalam dan samudra yang membentang sebelum kau mencapai tempat itu.”

“Tidak adakah jalan lain? Jalan pintas, mungkin?”

“Hahaha… Kau berbicara tentang Polaris, anak muda. Dan sekarang kau bertanya tentang jalan pintas? Hahaha,” tawa gembala tua Greco semakin menggelegar. “Kau tahu mengapa sekarang aku masih menjadi seorang gembala? Karena ketika aku berpikir untuk menjual domba-dombaku dan pergi menyebrangi lautan, aku memikirkan apakah tidak ada cara untuk tetap memiliki domba-domba ini sambil menikmati surga hutan tropis di seberang lautan sana.”

Polaris, tempat impian.

Sebuah kota di utara yang dikatakan memiliki segala kemakmuran yang ada di dunia. Tempat di mana semua yang pernah kau impikan menjadi nyata. Ada yang berkata bahwa tidak ada yang tidak mungkin di kota ini. Makanya Polaris selalu disebut sebagai surga dunia.

Tempat ini adalah benua Selatan. Semua orang yang berada di benua Selatan pastilah pernah bermimpi tentang Polaris. Benua selatan selalu beku dan ketika kau melihat kemanapun, yang ada hanya warna putih. Musim dingin selalu meliputi benua Selatan, membuatnya menjadi benua yang selalu dikutuk oleh para anak muda. Bagaimanapun anak muda selalu punya mimpi-mimpi. Mereka berniat untuk meninggalkan tempat ini dan mencapai apa yang mereka sebut sebagai mimpi masa muda di musim panas. Hanya sedikit yang benar-benar mencapai mimpi musim panasnya, karena ketika mereka sadar bahwa mereka sebenarnya dapat mewujudkan mimpi-mimpi itu, mereka terlalu tua untuk menyebutnya mimpi masa muda. Kenyataannya, ini adalah benua Selatan, tidak ada yang disebut musim panas.

Haha, iseng-iseng berhadiah. Pengen banget ngelanjutin nulis cerita ini.

|



{ High School Musical Review }

//December 23, 2008//

High School Musical Series // 2006 – 2008 // Kenny Ortega // Disney Channel// Zac Efron, Vanessa Hudgens, Ashley Tisdale

Ketika berbicara tentang film untuk anak-anak, tidak banyak orang yang menganggap serius untuk membuatnya benar-benar untuk anak-anak. Setidaknya, hanya Disney Channel yang benar-benar tahu bagaimana membuat program TV untuk anak-anak. 25 tahun mengudara dan mengkhususkan dirinya di program tayangan TV untuk anak-anak, kita dapat meyakini bahwa Disney memang telah menjadi ahli di bidangnya. Lihat saja film-film tv serial terkenal seperti Lizzy Maguire, That’s So Raven dan Hannah Montana. Tapi, mungkin Disney tidak menduga bahwa High School Musical, salah satu original movie mereka yang pertama diputar di awal tahun 2006 ternyata mampu meraih sukses dan menjadi fenomena pop hampir di seluruh negeri.

Sebelum akhirnya menulis review ini, saya membaca banyak review tentang High School Musical, yang sudah saya pastikan kebanyakan pasti akan berkata senada. “High School Musical memang bagus, tapi hanya untuk target penontonnya”. “High School Musical itu film cheesy dengan script yang hanya pantas disebut draft”. Ataupun kenyataan bahwa, “High School Musical tidak pantas mendapat sukses yang begitu besar walaupun ke-14 keponakan saya merekomendasikan film ini”. Menurut saya, mereka terlalu keras menilai film ini.

Ceritanya sendiri adalah tentang kapten tim basket, Troy Bolton (Zac Efron) dan seorang anak pindahan yang ternyata jenius, Gabriella Montez (Vanessa Hudgens) yang kebetulan bertemu di sebuah tempat liburan dan kebetulan pula berduet karaoke di sebuah pesta tahun baru. Takdir membawa mereka bertemu kembali karena ternyata Gabriella adalah murid pindahan di SMU Troy. Keduanya (yang menyadari kenyataan bahwa mereka bisa menyanyi dan ingin kembali menyanyi bersama) kemudian secara kebetulan juga mendaftar untuk audisi drama musikal sekolahnya. Plot yang sesungguhnya muncul ketika Troy sebagai kapten tim basket WildCats melakukan hal yang unpredictable dengan mengikuti audisi tersebut, sehingga teman-teman tim basketnya ingin Troy tetap menjadi kapten tim basket seperti yang seharusnya. Dalam perjalanannya, mereka mendapat gangguan dari kakak beradik Sharpay (Ashley Tisdale) dan Ryan Evans (Lucas Gabreel), langganan peran utama drama musikal di sekolah tersebut. Karena merasa terancam dengan kehadiran Troy dan Gabriella, mereka berduapun melakukan segala cara untuk mencegah keduanya ikut audisi.

Cheesy? Ya, tentu saja. Sangat malah. Plotnya terlalu jelas, kita tahu cerita ini akan berakhir bahagia dan tentu saja ditutup dengan lagu. Saya juga menonton film ini dengan penuh prasangka, dan berakhir dengan saya malah jatuh cinta pada film ini. Dialog-dialognya dapat ditebak. Dan kita akan tahu timing bahwa sebuah lagu akan diputar beberapa menit sebelum mereka akan bernyanyi. Yang unik, saya terpukau dengan tokoh Sharpay (saya langsung jatuh cinta pada Miss Tisdale setelah menonton film ini), ia memainkan perannya dengan baik sebagai seorang pempered princess, ia adalah seorang screen-stealer yang mengagumkan. Yang patut dipuji adalah chemistry di antara kedua tokoh utamanya, Efron dan Hudgens membuat kita percaya bahwa mereka benar-benar jatuh cinta dengan manis (dan lagi-lagi terlalu manis). Walaupun akting mereka sering berlebihan di sana-sini dan akting dari para artis pendukungnya seperti sangat ingin menunjukkan karakter mereka dengan sangat obvious.

Judul film ini High School Musical, tentu saja ada musikal di dalamnya. Dan jika ingin memberikan bintang, saya harus memberikan 5 dari 5 bintang untuk scoring dan soundtrack di film ini. Semua orang akan setuju bahwa lagu-lagu di film ini mudah dinyanyikan dan dinikmati. Lagu-lagunya pun disadari atau tidak menyampaikan pesan yang sangat eksplisit, macam “Start of Something New” dan lagu “Breaking Free” yang menyampaikan bahwa kita bisa menjadi apa saja jika kita mengikuti mimpi kita. Lagu-lagunya diciptakan sesuai dengan karakter penyanyinya (tentu saja). Seperti lagu ”Bop to the Top” yang ditampilkan secara Espanola oleh Sharpay dan Ryan. Hanya mereka yang mampu menyanyikan lagu seperti itu dengan baju dan tarian yang sekilas ’freak’. Saya memang penggemar duet ini, buktinya saya lebih suka lagu “What I’ve Been Looking For” versi Sharpay-Ryan yang sangat ceria daripada versi Troy-Gabriella yang mendayu-dayu.

Layaknya film yang booming mendadak, tentu saja harus ada SEKUEL! Ya, dan Disney Channel kembali meraih kesuksesan luar biasa dengan dua film selanjutnya, High School Musical 2 dan versi layar lebar mereka, High School Musical 3 : Senior Year. Ceritanya sendiri masih mengetengahkan percintaan Troy dan Gabriella dan persahabatan geng WildCats dalam menghadapi cobaan yang terwujud dalam bentuk Sharpay dan Ryan. Walaupun akhirnya keduanya harus mengakui kekalahan mereka dan mulai dapat membina hubungan baik dengan yang geng WildCats lainnya. Ceritanya, tetap cheesy dengan lebih banyak lagu tentu saja. Tampaknya mereka tidak mampu mengungkapkan perasaan hanya dengan dialog. Harus ada tarian dan nyanyian yang kadang terlalu dipaksakan. Seperti adegan Troy yang marah di High School Musical 2 dan bernyanyi “Bet On It”. Walaupun berlebihan, tapi toh semua orang tetap menyukainya.

Lalu apa yang salah dengan film ini? Kenapa banyak orang membencinya? Banyak yang menyamakan film ini dengan Grease (1978), dan menurut saya, kenapa harus? Seperti tren pakaian, semua hal di zaman dulu seperti terlihat norak. Rambut kribo dan baju ketat di tahun 70-an akan terasa keren di zamannya. Tapi mungkin hanya beberapa yang memakainya di tahun sekarang. Sama halnya dengan High School Musical atau Grease. Mungkin ketenaran High School Musical akan bergema layaknya Grease di tahun-tahun mendatang, siapa yang tahu?

Saya suka film cheesy dan itu bukan guilty pleasure, saya tidak akan menghina-hina di depan orang lain akan film itu walaupun menikmatinya di rumah sendirian. Menurut saya, semua orang pada dasarnya suka film yang cheesy dan popcorn. Kenapa? Karena Anda tidak usah susah-susah berpikir kenapa film ini bergerak terlalu lambat, atau bertanya-tanya kenapa alur ceritanya maju-mundur, lalu mundur, dan maju lagi. Seperti halnya High School Musical, dengan semua ke-cheesy-an dan ke-predictable-an mungkin justru itulah yang ingin ditampilkan di film ini. Film ini tidak sok-sok mengambil realita anak muda Amerika yang banyak bergaul dengan sex, drugs, dan alcohol. Kenny Ortega, si sutradara menampilkan hal-hal manis (terlalu manis malah) di film ini. Di mana, kita dapat menyelesaikan semua hal dengan cinta dan persahabatan, seperti yang dituangkan dalam lagu finale mereka di film ini “We’re All in This Together”. Film ini memang diciptakan untuk anak-anak, yang seharusnya mendapatkan realita bahwa tidak semua hal di dunia ini penuh dengan hal-hal buruk dan gelap. Mungkin, sekilas saya terlalu membela film ini. Tapi menurut saya, High School Musical adalah sebuah film yang mempunyai tujuan yang jelas, target penonton yang jelas, dan kenapa masih mempeributkan bahwa seharusnya film ini tidak layak mendapatkan sukses?

|



{ A Night }

//December 14, 2008//

One night, I spoiled a little of my thoughts. Let it ran through everyone, let them saw the thing I always care of. I’m afraid of things, and I broke the boundary I put on myself. But the last thing I can remember, they congratulate me. They said thank you, and said that I tried so hard to say it, which is a good thing to do. I’m still afraid sometimes. But, then again, I can’t take back what I said and I already let them saw me. For better or worse, I always pray for them. Whether you take is as a comment or critic, a bad or a good thing, I already put my bet. And I’m counting on all of you.

|



WRITING ON THE WALL

Prisanti Putri. Cupris. 21 going on 22. Oct 16. Libra. COLLEGE. Engineering Physics. Indonesia. Dreamer. Reader. Enjoying life. Wannabe author. Filmmaker.

LIVE TO LOVE

Filmmaking. Movie. Books. Writting. Typing. Yellow. Paulo Coelho. Red shoes. Punk. Seafood. Jazz. Kate DeCamillo. Alice in Wonderland. Sofia Coppola. MSG (Monosodium Glutamat). Chocolate. Rainbow. Life. PIXAR. Invite34. Tim Burton. King of Bandit Jing.

Reading : Brida - Paulo Coelho, The Book of Lost Thing - John Connelly, The Witch of Portobello - Paulo Coelho, The Winner Stands Alone - Paulo Coelho

Listening : Disney PIXAR Greatest Hits

WISH UPON STAR

Oktomat 8-lens Camera. Film Polaroid 600. Artemis Fowl: The Opal Deception. Alice in Wonderland (5 Maret 2010). Toy Story 3 (18 Juni 2010).

LEAVE "HALLO!"
ShoutMix chat widget

SURF TO OCEAN

KAO-ANI, WIKIPEDIA, tktq+, NATIONAL GEOGRAPHIC, READER'S DIGEST, HOWSTUFFWORKS, rotten tomatoes, shelfari, Mod Cloth, NanoWrimo

THE POSTAL SERVICE

@yahoo
@gmail
@ymail
TUMBLR
MOZARELLA BANDIT
FACEBOOK

FIGHTING ON

Manajer Pendidikan LFM 2009-2010
Mahasiswa tingkat akhir Teknik Fisika ITB, mengincar wisuda Juli 2010

CHEERS TO PEOPLE

ANGGA
ANIE
AYU
DENO
DINI
DINOY
EVAN
INSAN
LARAS
LIZA
MANGASI
MUTIA
PUPUT
PUTY
RAMDA
REY
RIZGANT
SABARB
SABARB - sayabilangfilm
SELLA
SYNTA
VIENZ
VINA
VITA
WIYDIY
YOLA

» Previous:

AVATAR - behind the Glasses

SIMCITY

Inglourious Basterds

The Last Three

Age that matters

» ARCHIVE

2008
March 2009
April 2009
May 2009
Juni 2009
Juli 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009

CREDITS

DiaryLand sxc haloscan shoutmix photobucket kao-ani statcounter